BEDAH BUKU “TAFSIR HUBBUL WATHAN” SERI 1 & 2 DI UNIVERSITAS PTIQ JAKARTA

Oleh: M. Agus Yusron

Jakarta, PTIQ – Universitas PTIQ Jakarta menggelar Bedah Buku “Tafsir Hubbul Wathan” Seri 1 dan 2 karya TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, M.A. Acara berlangsung di Ruang Auditorium Lt. 2 Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta pada pukul 09.00–12.00 WIB secara hybrid, melalui Zoom dan YouTube, dengan dihadiri 160 peserta offline.

Acara ini menghadirkan tiga narasumber: TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, M.A. (Penulis, Ketua Umum NWDI, Ketua OIAA Indonesia); Assoc. Prof. Dr. H. Muhammad Hariyadi, M.A. (Kaprodi Doktor Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir PTIQ Jakarta); dan Dr. Abd. Muid N., M.A. (Kaprodi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir PTIQ Jakarta). Bertindak sebagai moderator, Dr. M. Agus Yusron, M.A. (Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta/ Anggota BPP NWDI)

Hubbul Wathan sebagai Manifestasi Iman

Moderator membuka acara dengan menegaskan bahwa cinta tanah air (Hubbul Wathan) bukan sekadar dogma kultural atau slogan politik, melainkan manifestasi iman yang bertaut rapat dengan petunjuk wahyu. Buku yang dibedah terdiri dari dua seri: Seri 1 membuka pintu petunjuk lewat Surah Al-Fatihah dan 25 ayat pertama Surah Al-Baqarah, sedangkan Seri 2 menyingkap hikmah di balik perumpamaan serta kisah Bani Israil dalam QS. Al-Baqarah ayat 26–74.

Acara ini terasa istimewa karena mempertemukan dua mahakarya ilmu: PTIQ Jakarta sebagai “Rumah Al-Qur’an” yang telah melahirkan ribuan mufasir, huffazh, dan akademisi, dengan TGB sebagai ulama-umara yang tidak hanya menyuarakan Al-Qur’an dari mimbar keilmuan tetapi juga mengejawantahkannya dalam realitas sosial-kemasyarakatan. Sinergi ini mengirimkan pesan kuat: semakin dalam seseorang meresapi Al-Qur’an, seharusnya semakin kuat pula cintanya kepada tanah airnya.

Menariknya, ada lembaran sejarah yang seolah sudah ditakdirkan. PTIQ Jakarta lahir pada 1 April 1971 sebagai perguruan tinggi pertama di dunia yang secara khusus mendedikasikan diri untuk menghafal, mengkaji, dan mengagungkan Al-Qur’an. Hanya berselang satu tahun, pada 31 Mei 1972, lahir seorang insan yang kelak menjadi ulama tafsir terkemuka: TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi. Keduanya tumbuh di era yang sama, bernapas dalam iklim perjuangan yang sama, dan kini bertemu dalam satu ruang penuh berkah untuk menegaskan bahwa Al-Qur’an dan kecintaan pada Tanah Air bukan dua hal yang berseberangan, melainkan dua ikatan yang tak terpisahkan dalam sanubari umat Islam Indonesia.

Tafsir yang Menyentuh Hati

Dr. Abd. Muid N., M.A. menilai Tafsir Hubbul Wathan bisa menjadi “The Next Tafsir Al-Mishbah.” Menurutnya, terdapat kesamaan latar belakang penulisnya yang sama-sama lulusan terbaik Al-Azhar. Kemudian ada jarak 25 tahun tafsir ini dengan Al-Mishbah (Karya Prof Quraish), yang seakan mengulangi sejarah sebelumnya, yaitu 25 tahun jarak antara Al-Mishbah dengan Al-Azhar (Karya Hamka). Tafsir ini sangat dominan aspek lil hidayah-nya, sehingga sangat tepat bagi masyarakat luas untuk memahami makna Al-Qur’an dengan mudah dan menyentuh hati.

Sementara itu, Dr. Muhammad Hariyadi, M.A. berpandangan bahwa sepertinya belum tepat disebut sebagai “The Next Tafsir Al-Mishbah; tafsir ini lebih tepatnya sebuah pengantar. Ia berharap, dengan kapasitas TGB yang sangat mumpuni, akan lahir dari goresan tangan beliau tafsir yang benar-benar “The Next Tafsir Al-Mishbah,” bahkan bisa lebih baik lagi. Meskipun demikian, Tafsir Hubbul Wathan sangat direkomendasikan karena tergolong unik, sangat kontekstual, mudah dipahami, dan lahir dari seorang ulama yang sangat kompeten. Ia juga berharap TGB segera menuntaskan tafsirnya ini sampai 30 juz, kemudian melanjutkan dengan kitab tafsir yang lebih mendalam dan komprehensif.

Melawan Dikotomi Keagamaan dan Kebangsaan

TGB menjelaskan bahwa buku ini adalah hasil transkrip dari kajian Tafsir di Islamic Center Hubbul Wathan-NTB. Buku ini memang disuguhkan untuk jemaah yang hadir saat itu, dari pegawai kantor sampai musafir. Harapannya, setelah jumatan, ada ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an yang dibawa pulang dan menjadi bekal dalam pengamalan kehidupan sehari-hari. Ia menyampaikan bahwa ke depan akan ditulis tafsir yang lebih serius, yang namanya sudah ada, dan memohon doa agar Allah memudahkan.

Selanjutnya, TGB menegaskan bahwa penamaan Hubbul Wathan adalah upaya melawan dikotomi keagamaan dan kebangsaan. Agama dan negara tidak bertentangan, melainkan sangat terikat erat. Banyak orang keliru memandang bahwa dekat dengan negara dapat mengurangi iman; pandangan ini sangat keliru.

TGB juga berharap PTIQ sebagai lembaga pelopor Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir menjadi rumah bagi siapa pun yang ingin belajar dan menanyakan seputar Al-Qur’an, agar tidak salah jalan dalam memahami makna Al-Qur’an. Ia berpesan bahwa sebelum menyampaikan nilai Al-Qur’an ke masyarakat, harus memahami empat hal: ulum an-nash (ilmu tentang teks), ulum as-siyâq (ilmu tentang konteks), ulum al-fahm (ilmu tentang pemahaman), dan at-tanzil al-hadhari (ilmu tentang penerapan dalam peradaban).

Kerjasama PTIQ dan IAIH Pancor

Selain bedah buku, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menjalin kerjasama antara Universitas PTIQ Jakarta dan Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor. MoU mencakup Tri Dharma Perguruan Tinggi; yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. Dari pihak PTIQ ditandatangani oleh Rektor Universitas PTIQ Jakarta, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dan Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H. M. Darwis Hude, M.Si. Sedangkan dari pihak IAIH ditandatangani langsung oleh TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, M.A. selaku rektor. MoU disaksikan langsung oleh segenap pimpinan dan dosen Universitas PTIQ Jakarta.

Diharapkan kerjasama antara PTIQ dan IAIH Pancor terus dapat dilaksanakan agar sama-sama mendapatkan manfaat. TGB sangat mengapresiasi PTIQ Jakarta yang sangat konsisten sebagai Kampus Al-Qur’an tertua di Indonesia. Begitu juga dengan pihak PTIQ, kehadiran TGB menjadi inspirasi bagi segenap mahasiswa PTIQ bahwa menjadi alumni PTIQ tidak harus menjadi imam masjid, melainkan bisa menjadi imam di pemerintahan, sebagaimana jalan yang ditempuh oleh TGB. []